Berapa Banyak Inventaris yang Sebaiknya Anda Miliki? Menemukan Titik Idealnya

Berapa Banyak Inventaris yang Sebaiknya Anda Miliki? Menemukan Titik Idealnya

Ada alasan kuat mengapa begitu banyak orang lebih memilih makan di luar atau memesan lewat GoFood dan GrabFood ketimbang memasak di rumah. Merencanakan menu itu sulit, apalagi untuk keluarga besar dengan selera berbeda-beda, kulkas penuh tanggal kedaluwarsa, dan kesibukan sehari-hari.

Ini menunjukkan betapa sulitnya merencanakan sesuatu di depan, dan perencanaan inventaris bagi pemilik usaha kecil pun tidak berbeda.

Memesan terlalu banyak, Anda terjebak dengan produk yang tak terjual dan biaya penyimpanan (itu pun kalau Anda beruntung, sebagian barang bisa turun nilainya atau bahkan kedaluwarsa).

Memesan terlalu sedikit, Anda berisiko kehabisan stok justru saat permintaan sedang naik. Belum lagi, harus mengulang seluruh proses pemesanan dari awal juga bukan hal yang menyenangkan.

Saat mencoba menentukan berapa banyak stok yang harus disiapkan, tidak ada jawaban sederhana, karena jawaban itu memang tidak ada.

Karena itu, alih-alih memberi Anda angka ajaib, kami akan membagikan kerangka kerja yang fleksibel untuk membantu Anda memutuskan apa yang tepat bagi toko Anda. Kami membaginya menjadi dua bagian utama:

  • Bagian 1: Untuk wirausahawan baru tanpa riwayat penjualan
  • Bagian 2: Untuk pemilik toko yang sudah punya data

Bagian 1: Belum Punya Riwayat Penjualan? Begini Cara Menentukan Jumlah Stok

Memulai toko dari nol itu mengasyikkan, tetapi juga berisiko.

Berbeda dari produk atau layanan digital, menjual barang fisik berarti ada investasi di muka. Anda harus membeli stok sebelum berhasil menjual satu barang pun. Itu komitmen besar, apalagi ketika Anda tidak punya data masa lalu sebagai pegangan.

Lalu, bagaimana cara merencanakan inventaris tanpa riwayat penjualan?

💡
Kami merekomendasikan dua strategi:
▶︎ Belajar dari mereka yang sudah lebih dulu menjalankannya.
▶︎ Perlakukan stok pertama Anda seperti prototipe.

Tips #1: Belajar dari Mereka yang Sudah Lebih Dulu Menjalankannya

Misalnya Anda menjual lilin buatan tangan. Kebutuhan stok Anda akan sangat berbeda dari orang yang menjalankan butik pakaian. Produk, kisaran harga, dan perilaku pelanggannya semua berbeda.

Jadi, apa yang sebaiknya Anda lakukan?

Cara tercepat mendapatkan saran praktis berbasis pengalaman adalah memanfaatkan pengetahuan kolektif sesama wirausahawan di niche Anda.

Salah satu cara terbaik (dan termurah) untuk itu adalah lewat komunitas online.

  • YouTube penuh dengan konten seperti "cara memulai toko Shopee dari nol" atau "membangun brand kaus dari nol". Banyak video semacam ini dibuat oleh orang-orang yang pernah menghadapi pertanyaan yang persis sama dengan Anda. Anda akan menemukan cerita jujur soal apa yang berhasil dan apa yang tidak.
  • Manfaatkan pusat edukasi resmi marketplace, seperti Seller Education Hub Shopee, Pusat Edukasi Seller Tokopedia, dan TikTok Shop Academy, untuk panduan langsung dari platformnya. Komunitas seller di grup Facebook, Telegram, maupun program seperti Kampus UMKM Shopee juga tempat yang baik untuk bertanya, berbagi tips, dan melihat contoh nyata tingkat stok yang cocok bagi penjual lain.

Tentu saja, sikapi selalu saran online dengan skeptisisme yang sehat. Apa yang berhasil untuk orang lain belum tentu cocok persis untuk Anda, tetapi itu bisa jadi titik awal untuk diuji dan dipelajari. Kadang, Anda memang tidak perlu menemukan kembali roda yang sudah ada.

Tampilan hasil pencarian YouTube tentang jumlah inventaris
Jualan apa pun, pelajari dari mereka yang sudah lebih dulu menjalaninya.

Tips #2: Gunakan Pendekatan "Minimum Viable Inventory"

Memulai toko sangat mirip dengan meluncurkan startup: Anda menciptakan sesuatu yang baru, mempelajari apa yang berhasil, dan mencari tahu di mana posisi produk Anda.

Ada satu konsep berguna dari dunia startup bernama Minimum Viable Product (MVP). Ini adalah versi paling sederhana dari sebuah produk yang cukup baik untuk menguji ide Anda dan mendapatkan masukan.

Anda bisa menerapkan logika yang sama pada inventaris. Anggap kumpulan produk pertama Anda sebagai Minimum Viable Inventory.

Ini bukan soal menimbun stok, melainkan soal menguji, belajar, dan menyesuaikan. Tujuan Anda bukan mencetak angka penjualan besar atau membangun basis pelanggan setia sejak awal, melainkan mencari tahu apa yang berhasil:

• Mengapa pelanggan itu membeli dari Anda?
• Bisakah Anda mengulang penjualan itu?
• Apa yang bisa Anda pelajari darinya soal produk, harga, atau pesan pemasaran Anda?

Saat memulai dari kecil, Anda bukan sekadar melindungi budget. Anda sedang membeli wawasan. Jadi, ketika seseorang bertanya, "Berapa banyak stok yang harus saya siapkan di awal?" jawaban jujurnya adalah:

Cukup untuk menguji ide Anda dan melihat apa yang benar-benar diinginkan orang.
Dua orang menata kotak pengiriman di gudang


Bagian 2: Sudah Punya Toko? Biarkan Data Penjualan Jadi Penuntun

Begitu toko Anda berjalan, perencanaan inventaris jadi lebih sedikit menebak-nebak dan lebih banyak soal strategi. Dan spreadsheet.

Sisi baiknya, kini Anda punya riwayat penjualan yang menunjukkan apa yang laris dan kapan. Sisi lainnya, mengelola inventaris jadi lebih rumit. Anda tidak lagi bekerja hanya berdasarkan insting atau saran online; Anda perlu melacak data nyata dan mengambil keputusan berdasarkan data itu. Di titik inilah sebaiknya Anda mulai menyukai pelajaran berbau angka.

Lalu, bagaimana memastikan Anda memesan stok dalam jumlah yang pas, tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit?

Tips #1: Lacak Angka Penjualan untuk Mendapat Wawasan

Mari kita lihat satu metrik yang ampuh: Days Inventory Outstanding (DIO).

DIO memberi tahu rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan untuk menjual stok yang Anda miliki, berdasarkan kinerja masa lalu.

Bayangkan begini: jika hari ini Anda masuk ke gudang, berapa lama waktu untuk menjual semua barang yang ada di sana? Itulah yang dijawab DIO.

Seorang perempuan memakai laptop di antara kotak kardus

Berikut rumus menghitung DIO:

📌
DIO = (Rata-rata Inventaris / Harga Pokok Penjualan) × Jumlah Hari

Mari kita uraikan:

  1. Pilih periode waktu. Bisa setahun, satu kuartal, atau sebulan. Pilih periode yang memiliki data penjualan sekaligus data inventaris.
  2. Hitung rata-rata inventaris selama periode itu. Jumlahkan nilai inventaris di awal dan akhir periode, lalu bagi dua.
  3. Hitung HPP (Harga Pokok Penjualan/COGS) untuk periode yang sama. Ini adalah total biaya produk yang benar-benar Anda jual pada periode tersebut.
  4. Kalikan dengan jumlah hari dalam periode. Misalnya, gunakan 365 untuk satu tahun penuh.

Sebagai contoh, mari kita lihat angka Costco tahun fiskal 2026 (dari laporan tahunan mereka):

• Nilai inventaris akhir tahun: $19,3 miliar
• Nilai inventaris awal tahun: $18,1 miliar
• HPP: $264,3 miliar

Sekarang masukkan ke rumus:

• DIO = (($19,3 miliar + $18,1 miliar) ÷ 2) ÷ $264,3 miliar × 365
• DIO = 25,8 hari

Artinya, rata-rata Costco menyimpan stok setara kurang dari sebulan penjualan pada satu waktu. Prinsip yang sama berlaku untuk toko di Indonesia, berapa pun skalanya: hitung DIO Anda sendiri dari data penjualan dan stok Anda.


Mengetahui DIO memberi Anda lebih dari sekadar angka. Ia membantu Anda mengantisipasi tantangan dan tetap siap menghadapi kehabisan stok, barang yang lambat terjual, serta kemungkinan perubahan permintaan.

Misalnya DIO Anda sekitar 26 hari, seperti Costco. Itu berarti:

• Anda sebaiknya merencanakan restock kira-kira sebulan sekali.
• Anda butuh cukup waktu untuk memesan, menerima, dan menata stok baru di rak sebelum kehabisan.
• Seluruh operasi Anda, termasuk pemesanan, pengiriman, dan stok masuk barang, perlu berjalan dalam ritme bulanan yang sama.

DIO hanyalah satu dari banyak KPI industri yang digunakan manajer inventaris untuk merencanakan pembelian. Jika Anda ingin mendalami metrik berguna lainnya, seperti turnover rate atau nilai inventaris, kami juga membahasnya.

Tips #2: Perhitungkan Lead Time Supplier Anda

Lead time supplier mengacu pada berapa lama waktu yang dibutuhkan supplier untuk mengirimkan produk setelah Anda memesan.

Misalkan Anda melihat dress merah Anda laris manis. Pelanggan menyukainya, dan mereka menyarankan teman serta keluarga untuk ikut membeli. Anda ingin segera restock untuk menunggangi gelombang permintaan.

Tapi, ini masalahnya: berapa lama supplier Anda bisa memenuhi pesanan baru itu?

Seorang perempuan menulis di papan jepit di dekat tumpukan kotak

Memahami lead time membantu Anda bersiap untuk momen seperti ini. Lebih baik lagi, waktu pengiriman yang konsisten memungkinkan Anda mengukur dan mengotomatiskan sebagian proses pemesanan stok.

Satu langkah cerdas adalah menetapkan reorder point, yang juga dikenal sebagai safety stock. Ini adalah tingkat stok di mana Anda sebaiknya memesan ulang agar tidak kehabisan. Berikut rumusnya:

📌
Reorder Point = Kecepatan Penjualan Harian (Daily Sales Velocity) × Lead Time

Tips #3: Pertimbangkan Keterbatasan Arus Kas

Bagi bisnis apa pun, memiliki dana yang cukup untuk menutup operasi sehari-hari adalah indikator utama kesehatan finansial.

Ketika Anda berinvestasi besar pada stok, Anda mengurangi kas yang tersedia untuk kebutuhan penting lain seperti gaji, pajak, iklan berbayar, atau jasa konsultan. Karena itu, meski produk Anda tidak punya tanggal kedaluwarsa tertentu, menaruh semua uang ke stok "untuk jaga-jaga" jarang jadi strategi inventaris yang cerdas. Kecuali Anda yakin dengan permintaannya, Anda bisa berakhir dengan dead stock dan likuiditas yang terbatas.

Sebaliknya, selaraskan perencanaan inventaris Anda dengan arus kas. Jika penjualan Anda cenderung melonjak musiman, misalnya menjelang Ramadan dan Lebaran, usahakan menjadwalkan pembelian besar pada periode pendapatan yang kuat.

Stok yang menumpuk tanpa terjual adalah salah satu penyebab utama kas ikut terjebak. Untuk tips praktis membebaskan modal yang terikat di stok, baca juga artikel di bawah:

Cara Menemukan dan Mengosongkan Dead Stock Sebelum Tutup Tahun
Dead stock menggerogoti modal dan ruang gudang. Pelajari cara menemukannya dengan aging report dan mengosongkannya sebelum tutup tahun tiba.


Kesimpulan

Jika Anda menunda meluncurkan atau mengembangkan bisnis ritel karena inventaris terasa terlalu rumit, berikut beberapa gagasan untuk membantu Anda melangkah maju:

  1. Jika Anda belum punya riwayat penjualan untuk dijadikan dasar keputusan, carilah wawasan dari orang lain di niche produk Anda yang sudah lebih dulu menjalaninya. Jelajahi komunitas online para pelaku ritel, seperti di YouTube, pusat edukasi resmi marketplace, atau grup Facebook untuk cerita langsung dan saran praktis.
  2. Perlakukan pembelian stok awal sebagai investasi untuk belajar dan mengumpulkan masukan dari pelanggan nyata.
  3. Pelajari cara menggali nilai dari spreadsheet dan angka. Metrik sederhana untuk memulai antara lain DIO (Days Inventory Outstanding), lead time supplier, dan reorder point (safety stock). Angka menjadi makin penting untuk menjaga arus kas yang sehat antara saat membeli stok dan saat stok itu terjual.
  4. Andalkan otomasi dari platform manajemen inventaris seperti BoxHero untuk menyederhanakan prosesnya.
Mulai dari kecil, terus belajar, dan dengan cara yang tepat, bisnis Anda bisa tumbuh percaya diri tanpa pusing soal stok.
Mulai kelola inventaris dengan BoxHeroSemua fitur tersedia dalam uji coba gratis 30 hari.